{"id":495,"date":"2018-09-18T09:36:51","date_gmt":"2018-09-18T09:36:51","guid":{"rendered":"http:\/\/pkmprambanan.com\/?p=495"},"modified":"2019-08-17T03:35:10","modified_gmt":"2019-08-17T03:35:10","slug":"apakah-penyebab-terjadinya-tb-resistan-obat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pkmngaglik1.slemankab.go.id\/?p=495","title":{"rendered":"APAKAH PENYEBAB TERJADINYA TB RESISTAN OBAT?"},"content":{"rendered":"<p>Pengobatan yang tidak tuntas atau tidak tepat kemungkinan merupakan pemicu terjadinya TB resistan obat.<\/p>\n<p>Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang menyebar melalui udara dari orang yang terinfeksi ke orang yang sehat. Umumnya TBC menyerang paru-paru, tetapi juga dapat mempengaruhi bagian tubuh yang lain seperti otak, ginjal, atau tulang belakang. Pada kebanyakan kasus, TB dapat diobati dan disembuhkan. Jika penanganan TBC tidak tepat dapat menyebabkan kematian pada penderitanya. Pada beberapa orang dapat mengalami resisten atau kebal terhadap obat yang digunakan untuk mengobati TBC. Penderita TBC yang resistan obat dapat menyebarkan penyakit melalui cara yang sama yaitu melalui udara.<\/p>\n<p>Apakah penyebab TB resistan obat?<br \/>\nTerdapat 3 macam tipe dari kondisi TB yang resisten terhadap obat:<\/p>\n<p>TB resistan obat adalah TB yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis yang telah mengalami kekebalan terhadap obat anti TBC (OAT).<br \/>\nMulti Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB) atau TB-MDR adalah TB resistan obat terhadap minimal dua OAT yang paling poten, yaitu kombinasi INH dan Rifampisin atau disertai resistan terhadap OAT lini pertama lainnya seperti etambutol, streptomisin dan pirazinamid.<br \/>\nExtensively Drug Resistant Tuberculosis atau XDR TB adalah TB MDR yang disertai dengan kekebalan terhadap OAT lini kedua yaitu obat golongan fluorokuinolon dan setidaknya satu OAT lini kedua obat suntik seperti kanamisin, amikasin atau kapreomisin.<br \/>\nPenyebab terjadinya TB resistan obat dapat terjadi bila obat yang digunakan untuk mengobati TB tidak digunakan dengan tepat seperti:<\/p>\n<p>Penderita TBC tidak menyelesaikan pengobatan TBC secara penuh<br \/>\nPenyedia layanan kesehatan meresepkan dosis atau jangka waktu yang salah<br \/>\nObat yang dibutuhkan untuk terapi pengobatan tidak tersedia<br \/>\nTB resistan obat lebih sering terjadi pada orang yang memiliki kebiasaan:<\/p>\n<p>Tidak minum obat secara teratur<br \/>\nTidak minum semua obat TB yang diresepkan<br \/>\nMengalami TBC lagi setelah terapi TBC di masa lalu<br \/>\nBerdomisili di daerah tempat yang sering terjadi TB yang resistan obat<br \/>\nTinggal atau berkumpul dengan orang yang diketahui memiliki penyakit TB resistan obat.<br \/>\nBagaimana cara mencegah terjadinya TB resistan obat?<br \/>\nCara yang ampuh untuk mencegah terjadinya TB resistan obat adalah dengan mengkonsumsi semua obat TB seperti yang telah diresepkan. Berikut beberapa cara pencegahannya:<\/p>\n<p>Tidak melewatkan dosis obat dan pengobatan tidak boleh dihentikan lebih awal<br \/>\nPenderita TB wajib menginfokan kepada petugas kesehatan jika mengalami masalah saat mengkonsumsi obat<br \/>\nMendeteksi kemungkinan terjadinya TB resistan obat lebih dini dan dilanjutkan dengan melakukan pengobatan lini kedua dengan tepat.<br \/>\nMenghindari berkumpul dengan orang yang menderita TB resistan obat<br \/>\nTuntaskan dan patuhi pengobatan TB untuk mencegah TB resisten obat dan kehidupan yang lebih baik.<\/p>\n<p>Sumber:<\/p>\n<p>Centers for Disease Control and Prevention. (2017, 09 November). Drug Resistant TB. Diperoleh 01 Maret 2018 dari: https:\/\/www.cdc.gov\/tb\/topic\/drtb\/default.htm<br \/>\nTB Indonesia. TB MDR. Diperoleh 01 Maret 2018 dari: http:\/\/www.tbindonesia.or.id\/tb-mdr\/<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengobatan yang tidak tuntas atau tidak tepat kemungkinan merupakan pemicu terjadinya TB resistan obat. Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri yang menyebar melalui &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4951,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[315,314],"tags":[],"class_list":["post-495","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kesehatan","category-umum"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pkmngaglik1.slemankab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/495","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pkmngaglik1.slemankab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pkmngaglik1.slemankab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pkmngaglik1.slemankab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pkmngaglik1.slemankab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=495"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pkmngaglik1.slemankab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/495\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4979,"href":"https:\/\/pkmngaglik1.slemankab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/495\/revisions\/4979"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pkmngaglik1.slemankab.go.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4951"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pkmngaglik1.slemankab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=495"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pkmngaglik1.slemankab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=495"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pkmngaglik1.slemankab.go.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=495"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}