Leptospirosis? Penyakit Kencing Tikus?

Apa saja tanda gejalanya? Bagaimana pencegahan dan penangannya?

Pernahkah Anda mendengar tentang Leptospirosis? Di musim hujan ternyata tidak hanya penyakit Demam Berdarah yang angka kejadiannya meningkat, namun juga penyakit Leptospirosis. Penyakit ini sering terjadi di musim hujan, apalagi saat ini tidak menentu datang hujan di cuaca panas. Leptospirosis yang sering disebut penyakit kencing tikus ini disebabkan oleh infeksi bakteri Leptospira yang ditularkan kepada manusia melalui hewan seperti tikus, sapi, babi, dan anjing. Bakteri Leptosipra dapat hidup selama bertahun-tahun dalam ginjal hewan dan terbawa dalam urin hewan yang kemudian bercampur dengan air tanah dan lumpur. Namun hewan yang terinfeksi leptospirosis tidak menunjukan tanda-tanda penyakit apapun.

Penyakit ini dapat ditularkan kepada manusia bahkan dapat menyebabkan kematian. Bagaimana proses penularan ke manusia? Melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau jaringan dari hewan yang terinfeksi. Bisa juga melalui kontak dengan tanah atau air yang terkontaminasi urin hewan yang terinfeksi. Bakteri biasanya masuk ke tubuh melalui luka di kulit. Bakteri juga dapat melewati selaput lendir seperti kulit yang melapisi rongga mulut, hidung dan bagian depan mata. Bakteri pun dapat terhirup dan masuk ke dalam paru-paru. Dalam beberapa kasus leptospirosis pada manusia menyebabkan penyakit ringan. Tetapi pada beberapa orang dapat menyebabkan penyakit komplikasi pada hati, ginjal, paru-paru dan sebagainya.

Di wilayah Puskesmas Ngaglik 1, pada bulan Juni tahun 2022 terdapat kemunculan 1 kasus baru dimana pada tahun sebelumnya tidak pernah ditemukan kasus Leptospirosis. Kasus ini menyerang seorang petani yang berjenis kelamin laki-laki dan berusia 75 tahun saat sedang bekerja di persawahan. Saat bekerja, petani tersebut tidak menggunakan sepatu boot dan terdapat luka terbuka akibat gatal yang tidak sembuh di area kakinya. Setelah diberi penanganan yang tepat, akhirnya bisa sembuh.

Lalu apa saja tanda gejala Leptospirosis? Yuk kita kenali bersama sebagai berikut :

  • Demam tinggi
  • Sakit kepala
  • Panas dingin
  • Nyeri otot
  • Muntah
  • Penyakit kuning (kulit dan mata berwarna) atau yang biasa disebut jaundice.
  • Mata merah
  • Nyeri perut
  • Diare
  • Ruam

Gejala-gejala diatas bisa dianggap gejala dengan penyakit lain. Beberapa orang yang terinfeksi tidak memiliki gejala sama sekali. Waktu antara ketika pertama kali terkena paparan bakteri hingga menjadi terinfeksi sekitar 2 hari hingga 4 minggu. Leptospirosis biasanya dimulai secara tiba-tiba dengan demam dan gejala lainnya. Leptospirosis dapat terjadi dalam dua tahap :

  • Fase pertama

Ditandai dengan gejala demam, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, muntah, atau diare. Penderita dapat pulih untuk beberapa waktu namun gejala dapat timbul kembali.

  • Fase kedua

Pada fase kedua kondisi sudah lebih parah karena mulai terjadi kegagalan ginjal atau hati, atau terjadi meningitis. Pada fase ini juga disebut Penyakit Weil. Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk memastikan diagnosa serta tingkat keparahan komplikasi. Pemeriksaan darah dan urine untuk mengisolasi bakteri dari cairan tubuh penderita sulit dilakukan. Oleh karena itu, tes serologi mungkin akan dilakukan untuk membantu mengkonfirmasi diagnosa.

Jika mengalami tanda gejala seperti diatas, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Dikarenakan penyakit ini disebabkan oleh bakteri maka sudah tentu memerlukan obat jenis antibiotik. Berkonsultasilah dengan dokter untuk memastikan jenis dan dosis antibiotik yang dibutuhkan. Jangan lupa untuk minum  cairan untuk menghindari kekurangan cairan dalam tubuh (dehidrasi).

Bagaimana tindakan pencegahannya?

  • Cara terbaik untuk mencegah leptospirosis adalah dengan menghindari kontak dengan hewan yang berpotensi terinfeksi dan tanah/ air yang berpotensi terkontaminasi.
  • Apabila memerlukan kontak dengan hewan menggunakan pakaian pelindung dan peralatan seperti sarung tangan, pelindung mata dan alas kaki.
  • Mencuci tangan dengan sabun dan air  mengalir setelah terpapar hewan.
  • Menutup luka dengan benar agar tidak mudah terkontaminasi bakteri dari luar.
  • Mencegah perkembangbiakan hewan pengerat dapat membantu mencegah infeksi leptospirosis.

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terinfeksi leptospirosis diantaranya faktor pekerjaan yang berhubungan dengan hewan, melakukan perjalanan ke daerah tropis atau subtropis dan dalam kegiatan yang kontak langsung dengan air, kolam atau sungai. Selalu cuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah aktivitas dengan hewan, bawalah hand sanitizer saat pergi kemanapun untuk cuci tangan apabila di tempat tujuan tidak ada sarana cuci tangan.

Penulis : Beni Setya Anjani, S.KM


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *